Posts filed under 'Scholarship'
MEMBURU BEASISWA

Memburu Beasiswa, Upaya Merubah Nasib
“Anak petani yang ingin sekolah tinggi”
Masih teringat dengan jelas pesan orang tuaku, waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Katanya, “Kalau mau ubah nasib, Nak, kamu harus sekolah yang tinggi. Kalau tidak, yaa, kamu akan jadi petani seperti bapakmu ini nantinya.”
Saya kira, tidak ada hal yang istimewa dengan kata-kata itu bagi kebanyakan orang, namun bagi saya hal itu cukup mengusik pikiran. Artinya, kalau saya tidak sekolah sampai ke perguruan tinggi, nasib saya tidak akan berubah: akan jadi petani meneruskan profesi leluhur, banting tulang di tengah sawah di bawah sengatan matahari dan cucuran keringat dengan hasil panen tidak seberapa bila dihitung dengan cost dan pengorbanan yang harus dikeluarkan.
Berminggu-minggu kata-kata tersebut tidak hilang dalam benak.’Sekolah yang tinggi’, ‘perguruan tinggi’, ‘jadi petani’, ‘ubah nasib’, itulah beberapa ‘keywords’ yang terus menghantuiku saat itu. Beberapa deretan pertanyaan lain juga bermunculan, berdialog dengan jiwa sendiri terjadi begitu sering. “OK, OK, siapa sih yang ngak mau merubah nasib, siapa yang mau jadi petani terus, siapa yang ngak mau sekolah sampai ke perguruan tinggi. Tapi bagaimana caranya? Apakah punya duit untuk menyekolahkan aku?” Kalau dihitung dari hasil panen selama ini, ditambah job sampingan orang tuaku lainnya, paling banter aku hanya mampu bersekolah sampai SMA, tidak lebih dari itu!
Banyak bukti sudah. Selama ini yang tamat dari SMA saja (di kampungku nun jauh di Aceh) bisa dihitung dengan jari, apalagi tamatan perguruan tinggi. “Kalau hanya tamatan SMA, lebih baik tidak sekolah saja,” keluh aku pada waktu itu. Bagiku, itu hanya menambah citra negatif tentang anak sekolah: tiga tahun umur habis di SMP dan tiga tahun lagi habis di SMA, paling bisa cuma …, dan tidak ada skill khusus yang membuat berbeda dengan anak yang tidak sekolah. Sangat kontras, kalau enam tahun dihabiskan di pesantren, perubahannya begitu nyata. Mereka mampu jadi imam, memberi khotbah, membaca kitab-kitab berbahasa Arab “gundul”, menguasai tata bahasa Arab dengan baik dan mampu menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan begitu baik…
Memang, kampungku pada saat itu punya tradisi pesantren yang kuat. Secara rata-rata, anak-anak cerdas kebanggaan dan kesayangan orang tua dikirim ke pesantren, menuntut ilmu akhirat. Sangat jarang yang dikirim ke sekolah. Pada saat itu belum ada satupun “tukang insinyur”. Sekolah bagi sebagian orang itu tidak hanya identik dengan keduniawian dan dunia sekular, tapi juga identik dengan duit dan mahal. Tidak banyak orang tua yang sanggup menyekolahkan anaknya.
Pada suatu pagi, aku memutuskan dan berikrar, (more…)
14 comments May 24, 2008